![]() |
| Suasana guru dan siswa MTsN 430 Fakfak saat Gelar Shalat Istisqa di Tengah Kemarau dan Karhutla pada Jumat 2 Oktober 2026. (FOTO: ISTIMEWA/IMRAN ALWI. FUAD) |
PABAR.EXPOST.CO.ID, FAKFAK – Pagi itu, lapangan MTsN 430 Fakfak dipenuhi para siswa, guru dan tenaga kependidikan. Bukan untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya, melainkan untuk bersama-sama menunaikan Shalat Istisqa.
Di tengah kemarau yang berkepanjangan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah, keluarga besar madrasah memanjatkan doa agar hujan segera turun.
Shalat istisqa tersebut berlangsung Jumat (2/10/2026) pagi. Para jamaah mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat, membawa harapan yang sama: turunnya hujan yang membawa manfaat dan keberkahan.
Ustadz Dr. Karim Abd Rahman, S.Ag., M.M., yang memimpin shalat sekaligus menyampaikan khotbah, mengajak jamaah tidak hanya meminta hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan memperbanyak istigfar.
“Memohon dan meminta kepada Allah adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai hamba,” ujar Karim.
Ia mengingatkan jamaah bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, ketika menghadapi kondisi yang sulit, doa dan usaha harus berjalan beriringan.
Pesan tersebut menjadi pembelajaran tersendiri bagi para siswa. Apa yang biasanya mereka pelajari melalui buku dan pelajaran agama, pagi itu mereka alami secara langsung.
Sementara itu kepada media ini Kepala MTsN 430 Fakfak, Drs. La Boisi, S.Hi., M.MPd., mengatakan Shalat Istisqa menjadi pengalaman yang berkesan bagi keluarga besar madrasah.
“Bagi kami, ini bukan sekadar kegiatan keagamaan. Anak-anak mendapatkan pembelajaran secara langsung bagaimana menghadapi kondisi alam, memanjatkan doa, bersabar, sekaligus melakukan introspeksi,” kata La Boisi saat dikonfirmasi media ini melalui WhatsApp, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut mengajarkan kepada peserta didik bahwa pendidikan agama tidak berhenti pada teori.
Para siswa belajar bagaimana seorang muslim menghadapi ujian dengan sabar, berdoa, memperbaiki diri, sekaligus tetap berusaha menjaga lingkungan.
Sebab, di tengah kekeringan, kepedulian terhadap alam juga menjadi bagian penting. Madrasah mengingatkan para siswa agar tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan ikut menjaga kelestarian lingkungan.
Hari itu, tidak ada yang dapat memastikan kapan hujan akan turun. Namun dari lapangan MTsN 430 Fakfak, satu harapan dipanjatkan bersama: semoga langit segera menurunkan hujan, kekeringan berakhir, dan api yang mengancam lingkungan segera padam.
Bagi para siswa, pagi itu menjadi pelajaran yang mungkin akan mereka ingat lebih lama daripada sekadar materi yang tertulis di buku: bahwa ketika manusia menghadapi keterbatasan, doa, ikhtiar, dan kepedulian terhadap sesama serta alam harus tetap berjalan bersama. (*)


Social Footer