Breaking News

229 Peserta Ikuti Lomba Islami di Fakfak, Zulkifli La Ode Hilu: Lomba Islami 666 Tahun Islam di Tanah Papua Bukan Sekadar Cari Juara

Koordinator Penanggung Jawab Lomba Islami, Zulkifli La Ode Hilu, S.P., M.M: 229 Peserta Berlaga di Lomba Islami Fakfak, Momentum Perkuat Persaudaraan dan Nilai Keislaman. (FOTO: ISTIMEWA) 
PABAR.EXPOST.CO.ID, FAKFAK – Sebanyak 229 peserta mengikuti Lomba Islami dalam rangka memperingati 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua yang digelar di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Rabu (15/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan sejarah masuknya Islam di Papua sekaligus menjadi sarana memperkuat syiar Islam, membangun karakter generasi muda, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Koordinator Penanggung Jawab Lomba Islami, Zulkifli La Ode Hilu, S.P., M.M., mengatakan perlombaan tersebut tidak hanya bertujuan melahirkan para juara, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai keislaman, kebersamaan, dan persaudaraan.

"Lomba ini bukan semata-mata mencari pemenang. Yang paling utama adalah bagaimana peserta memperoleh pengalaman, memperdalam pemahaman keislaman, membangun karakter, serta mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah," ujar Zulkifli saat menyampaikan laporan kegiatan.

Pembukaan kegiatan dihadiri Bupati Fakfak, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, dewan juri, panitia, serta ratusan peserta yang berasal dari berbagai kategori usia.

Menurut Zulkifli, tingginya antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 229 orang dan mengikuti tujuh cabang perlombaan. Jika dihitung bersama keluarga, pendamping, serta masyarakat yang hadir memberikan dukungan, jumlah peserta dan pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang.

Ia menilai tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa peringatan masuknya Islam di Tanah Papua telah berkembang menjadi momentum bersama yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat lintas generasi.

"Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang memperkuat syiar Islam sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat," katanya.

Zulkifli menegaskan bahwa dalam setiap perlombaan, kemenangan bukanlah tujuan utama. Nilai yang jauh lebih penting adalah proses belajar, sportivitas, serta kesempatan membangun persaudaraan antarpeserta.

"Menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam sebuah kompetisi. Namun hikmah yang diperoleh, semangat berdakwah, dan silaturahmi yang terjalin selama kegiatan berlangsung merupakan nilai yang jauh lebih berharga," ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Fakfak atas dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan, termasuk bantuan anggaran yang memungkinkan seluruh rangkaian acara terlaksana dengan baik.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada para donatur, tokoh agama, unsur TNI-Polri, Kejaksaan, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, sponsor, serta seluruh panitia yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua merupakan hasil sinergi seluruh elemen masyarakat yang memiliki komitmen menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian.

Ia berharap seluruh peserta mengikuti perlombaan dengan menjunjung tinggi sportivitas yang berlandaskan ajaran Islam serta menjadikan ajang tersebut sebagai media memperluas persaudaraan dan meningkatkan kecintaan terhadap syiar Islam di Bumi Mbaham Matta.

Menutup sambutannya, Zulkifli mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta melanjutkan warisan dakwah yang telah diwariskan para pendahulu sejak lebih dari enam abad lalu.

Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua kembali menegaskan posisi Fakfak sebagai salah satu daerah yang memiliki jejak sejarah penting dalam perkembangan Islam di Papua. Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, nilai-nilai keislaman terus tumbuh berdampingan dengan budaya lokal melalui filosofi "Satu Tungku Tiga Batu", simbol kerukunan, persaudaraan, dan toleransi antarumat beragama yang telah menjadi identitas masyarakat Fakfak.

Partisipasi ribuan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa semangat Islam yang membawa pesan kedamaian, kasih sayang, dan persaudaraan terus hidup serta diwariskan kepada generasi muda sebagai fondasi membangun Papua yang religius, harmonis, dan berakhlak mulia.

"Syiar agama akan semakin bermakna ketika mampu menghadirkan persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menginspirasi generasi muda untuk menjaga warisan nilai-nilai kebaikan. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dilanjutkan melalui karya, akhlak, dan kebersamaan," tutup Zulkifli La Ode Hilu. (*) 

Penulis: Imran Alwi. Fuad
Editor  : Redaksi PabarExpost

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close