Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian besar peringatan perjalanan sejarah masuknya Misi Katolik di Tanah Papua yang tahun ini dipusatkan di Kabupaten Fakfak. Selain dihadiri peserta secara langsung, kegiatan juga diikuti secara daring melalui Zoom oleh peserta dari berbagai wilayah di Tanah Papua.
Pembukaan kegiatan dilakukan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak Muhammad Ilham Nurdin yang hadir mewakili Bupati Fakfak.
Dalam sambutan Bupati Fakfak yang dibacakan Muhammad Ilham Nurdin, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi serta mendukung seluruh rangkaian kegiatan peringatan yang tidak hanya bernilai religius, tetapi juga memiliki makna historis dan budaya bagi masyarakat Papua.
Pemerintah Kabupaten Fakfak juga menyampaikan penghormatan kepada para pastor dari berbagai keuskupan di Tanah Papua, para suster, frater, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta seluruh umat yang hadir dalam suasana kebersamaan dan sukacita.
"Kegiatan ini bukan hanya menjadi momentum perayaan iman, tetapi juga kesempatan untuk mengenang perjalanan sejarah yang telah membentuk nilai-nilai kehidupan masyarakat hingga saat ini," kata Ilham saat membacakan sambutan Bupati.
Menurutnya, berbagai agenda napak tilas yang akan dilaksanakan selama peringatan tersebut diharapkan dapat berjalan tertib serta memberi pemahaman yang lebih mendalam terhadap sejarah masuk dan berkembangnya agama Katolik di Papua.
Pemerintah daerah juga mengajak seluruh masyarakat memberikan dukungan dan doa kepada panitia agar seluruh agenda dapat berlangsung dengan baik hingga puncak perayaan.
Pada kesempatan itu, Pemerintah Kabupaten Fakfak turut memberikan apresiasi kepada penulis sejarah Suleman Itlay atas kontribusinya dalam mendokumentasikan berbagai sumber dan data sejarah terkait perjalanan Misi Katolik di Tanah Papua, khususnya di Fakfak.
Menurut Ilham, dokumentasi sejarah tersebut memiliki arti penting karena bukan sekadar menjadi arsip, melainkan dapat menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang dalam memahami perjalanan peradaban serta perkembangan kehidupan keagamaan di Papua.
Ia juga menilai Kabupaten Fakfak selama ini menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat yang mampu menjaga keberagaman dan persatuan dalam kehidupan sosial.
"Fakfak merupakan contoh nyata Bhinneka Tunggal Ika yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat. Nilai kebersamaan itu menjadi kekuatan yang harus terus dirawat," ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Fakfak juga menegaskan komitmennya dalam mendorong penetapan situs religi sejarah masuknya agama Katolik dan Islam di Tanah Papua melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan.
Saat ini, proses tersebut masih dalam tahap pengkajian serta pendalaman melalui penyusunan naskah sejarah. Sejumlah ritus dan tradisi budaya yang berkaitan dengan peringatan tersebut juga telah didaftarkan sejak Januari lalu sebagai bagian dari penguatan identitas budaya daerah.
Ilham menekankan pentingnya penulisan sejarah secara ilmiah agar nilai-nilai sejarah tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi secara baik untuk kepentingan pendidikan dan kajian akademik di masa mendatang.
Menutup sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga filosofi "Satu Tungku Tiga Batu" sebagai simbol persatuan, kebersamaan, dan keharmonisan masyarakat Fakfak.
"Warisan leluhur ini harus terus dijaga melalui semangat saling membantu, saling mendukung, dan saling mendoakan demi kebaikan bersama," katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri anak cucu para perintis misi, keluarga besar Kampung Sekru, pelajar SMA YPPK Santo Don Bosco, mahasiswa STKIP Nuuwar Fakfak, tokoh agama, tokoh adat, unsur pemerintah daerah, masyarakat, serta para pastor dari berbagai keuskupan di Tanah Papua. (Iaf)


Social Footer