Breaking News

Peringatan 1 Mei di Fakfak, Danrem 182/JO Soroti Pentingnya Pemahaman Sejarah Papua

Kepala Staf Korem 182/Jazira Onim (Kasrem 182/JO) Letkol Inf Eko Handono membacakan sambutan Danrem 182/JO saat peringatan kembalinya Irian Barat ke pangkuan NKRI di Winder Tuare, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Kamis (30/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan pemahaman sejarah dan semangat kebangsaan. (FOTO: PENDEM 182 JAZIRAH ONIM) 
Reporter: Imran Alwi. Fuad

PABAR.EXPOST.CO.ID, FAKFAK – Korem 182/Jazira Onim (JO) memperingati momentum kembalinya Irian Barat ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui kegiatan yang digelar di Winder Tuare, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Kamis (30/4/2026). 

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Staf Korem (Kasrem) 182/JO Letkol Inf Eko Handono membacakan sambutan Komandan Korem (Danrem) 182/JO Kolonel Inf Irwan Budiana. Dalam sambutannya, Danrem menegaskan bahwa tanggal 1 Mei 1963 merupakan tonggak sejarah nasional yang menandai kembalinya Irian Barat ke wilayah Indonesia.

Menurutnya, pemahaman sejarah yang utuh dan benar menjadi hal penting, khususnya bagi generasi muda, agar tidak terpengaruh oleh narasi yang dinilai bertentangan dengan fakta sejarah.

“1 Mei 1963 merupakan momentum kembalinya Irian Barat ke NKRI, bukan bergabung. Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah bekas jajahan Jepang, termasuk Papua, secara historis telah menjadi bagian dari Indonesia,” ujar Danrem dalam sambutan yang dibacakan Kasrem 182/JO.

Ia menjelaskan, setelah berakhirnya Perang Dunia II dan kekalahan Jepang, wilayah-wilayah bekas jajahan seharusnya dikembalikan kepada Indonesia. Namun, Belanda disebut tetap mempertahankan pengaruhnya di Papua Barat dan membentuk pemerintahan yang disebut sebagai negara boneka.

Momentum peringatan 1 Mei di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menjadi ajang refleksi sejarah sekaligus penguatan semangat persatuan dalam bingkai NKRI melalui kegiatan yang dipimpin Korem 182/Jazira Onim. (FOTO: PENREM 182 JAZIRAH ONIM) 
Danrem juga menyinggung tanggal 1 Desember yang menurutnya kerap dipahami secara berbeda oleh sebagian pihak. Ia menegaskan bahwa momentum tersebut bukanlah hari kemerdekaan Papua, melainkan bagian dari kebijakan kolonial Belanda pada masa itu.

“Sejarah harus dipahami secara proporsional dan tidak terbalik. Pemahaman yang benar penting agar generasi muda tidak kehilangan pijakan terhadap fakta sejarah bangsa,” katanya.

Dalam sambutannya, Danrem menegaskan bahwa proses masuknya Papua ke dalam NKRI bukanlah bentuk aneksasi, melainkan pengembalian wilayah yang menurutnya sah berdasarkan sejarah dan hukum internasional.

“Kita tidak mengambil atau mencaplok wilayah. Yang terjadi adalah kembalinya wilayah yang secara historis merupakan bagian dari Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Danrem turut mengapresiasi keterlibatan generasi muda di Fakfak yang dinilai aktif menjaga nilai persatuan dan pemahaman sejarah. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum 1 Mei sebagai refleksi kebangsaan dan penguatan persatuan.

“Fakfak adalah tanah damai dan memiliki nilai sejarah penting. Persatuan harus dijaga, dan pemahaman sejarah perlu diwariskan secara benar kepada generasi penerus,” tutupnya. (*) 


Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close