Pernyataan sikap tersebut disampaikan dalam aksi yang digelar di Taman Kota Abhipraya, Tuban, dan dipimpin oleh penasihat Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Tuban, Hendri Utomo.
Aksi ini melibatkan karateka dari berbagai aliran, di antaranya Inkanas, Lemkari, Gojukai, Shoto-kai, BKC, Shokaido, Inkai, hingga Porbikawa, yang menunjukkan solidaritas lintas perguruan.
Ketua FORKI Tuban, Angga Yulistianto, menyampaikan bahwa keputusan tersebut memicu keprihatinan di kalangan insan karate, khususnya terkait pembinaan atlet usia dini.
“Karate selama ini menjadi salah satu cabang olahraga yang konsisten membina karakter generasi muda melalui jalur pendidikan. Ketika tidak lagi dipertandingkan dalam O2SN, tentu akan berdampak pada keberlanjutan pembinaan atlet pelajar,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan bersama, para karateka menegaskan bahwa karate tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, serta nilai-nilai luhur yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Mereka menilai, kebijakan penghapusan karate dari DBON dan absennya cabang tersebut dalam O2SN 2026 berpotensi memutus mata rantai pembinaan atlet sejak usia sekolah.
- Menolak penghapusan karate dari DBON
- Meminta karate kembali dipertandingkan dalam O2SN sebagai bagian dari pembinaan pelajar
- Mengajak seluruh pemangku kepentingan olahraga untuk melihat karate sebagai investasi karakter bangsa
Meski demikian, para karateka menegaskan tetap berpegang pada nilai-nilai bushido, seperti kehormatan, disiplin, dan semangat pantang menyerah.
“Keputusan bisa berubah, kebijakan dapat berganti. Namun semangat kami untuk terus berlatih dan menjaga nilai-nilai karate tidak akan pudar. Karate tidak bergantung pada panggung, tetapi hidup dalam jiwa,” ujar salah satu perwakilan peserta aksi.
Pernyataan ini ditutup dengan komitmen para karateka Tuban untuk terus menjaga eksistensi dan nilai-nilai karate di tengah dinamika kebijakan olahraga nasional. (Rls/Alwi)



Social Footer