Breaking News

Arab Saudi dan UEA Disebut Kian Dekat Dukung AS dalam Eskalasi Konflik Iran

Bendera Kebangsaan Saudi Arabia
PABAR.EXPOST.CO.ID, NEW YORK – Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mulai menunjukkan perubahan sikap dengan semakin mendekat ke Amerika Serikat dalam menghadapi Iran, menyusul serangkaian serangan yang mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi negara-negara Teluk.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, kedua sekutu utama Washington di kawasan Teluk itu mulai condong memperkuat kerja sama dengan AS dan Israel setelah rangkaian serangan Iran dinilai mengganggu stabilitas ekonomi mereka serta berpotensi memperbesar pengaruh Teheran di sekitar Selat Hormuz.

Mengutip laporan Anadolu, Selasa (24/3/2026), perubahan sikap negara-negara Teluk itu dinilai dapat memperkuat kapasitas AS dalam melancarkan serangan udara, sekaligus membuka jalur baru untuk menekan sumber pendanaan Iran. Meski demikian, hingga kini Arab Saudi dan UEA disebut belum secara terbuka mengerahkan pasukan militernya ke medan konflik.

Sebelumnya, sejumlah negara Teluk cenderung berhati-hati dan menyatakan enggan terlibat langsung dalam konfrontasi dengan Iran. Namun, tekanan geopolitik disebut terus meningkat seiring ancaman Teheran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang menjadi pusat energi dunia tersebut.

Arab Saudi dilaporkan mulai membuka akses bagi militer AS untuk menggunakan Pangkalan Udara King Fahd yang berada di wilayah barat Semenanjung Arab. Sikap ini menandai perubahan penting setelah sebelumnya Riyadh menolak penggunaan fasilitas militer maupun wilayah udaranya untuk mendukung serangan terhadap Iran.

Perubahan posisi Saudi disebut terjadi setelah meningkatnya serangan rudal dan drone Iran yang menyasar Riyadh serta fasilitas energi kerajaan. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menegaskan bahwa kesabaran negaranya terhadap serangan Iran tidaklah tanpa batas.

Di saat yang sama, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan ingin memulihkan efek tangkal atau deterrence, dan disebut semakin dekat pada keputusan untuk bergabung dalam langkah militer yang lebih tegas terhadap Iran.

Sementara itu, UEA mulai mengambil langkah ekonomi dengan menekan aset-aset milik Iran. Dubai, yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur penting aktivitas bisnis Iran, dilaporkan menutup Iranian Hospital dan Iranian Club sebagai bagian dari kebijakan yang menyasar institusi yang dianggap memiliki keterkaitan dengan pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Tidak hanya itu, UEA juga disebut memperingatkan kemungkinan pembekuan aset Iran bernilai miliaran dolar. Langkah tersebut dinilai berpotensi membatasi akses Teheran terhadap valuta asing dan jaringan perdagangan global, sehingga memperbesar tekanan terhadap ekonomi Iran yang sudah terpukul inflasi dan sanksi internasional.

Serangan terbaru yang menyasar fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar semakin meningkatkan kekhawatiran di kawasan. Situasi tersebut juga mendorong terbentuknya sikap yang lebih tegas di antara negara-negara Teluk terhadap Iran.

Qatar bahkan mengecam serangan tersebut sebagai bentuk eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan nasionalnya. Di tengah situasi itu, para sekutu AS di Timur Tengah dilaporkan terus menjalin komunikasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membahas langkah lanjutan dalam menghadapi konflik dengan Iran.

Sejumlah analis menilai, apabila serangan Iran terhadap negara-negara Teluk terus berlanjut, bukan tidak mungkin negara-negara tersebut akan terdorong untuk terlibat lebih jauh, termasuk dalam konfrontasi terbuka di kawasan. (Red) 


Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close