![]() |
| Data Surveilans ISPA Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak Minggu 34–37 Tahun 2026. (FOTO: DINKES FAKFAK) |
PABAR.EXPOST.CO.ID, FAKFAK – Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mencatat sebanyak 553 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode surveilans minggu ke-34 hingga minggu ke-37 tahun 2026. Peningkatan kasus tersebut terjadi di tengah kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak terhadap kualitas udara di wilayah Fakfak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak dr. Maulana K. Patiran, M.Kes., mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla. Jika mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk atau gangguan kesehatan lainnya, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Maulana, Sabtu (3/10/2026).
Berdasarkan data surveilans Dinkes Fakfak, jumlah kasus ISPA menunjukkan tren peningkatan dalam empat pekan terakhir. Pada minggu ke-34 tercatat 96 kasus, kemudian meningkat menjadi 119 kasus pada minggu ke-35.
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 160 kasus pada minggu ke-36 dan mencapai 178 kasus pada minggu ke-37. Dengan demikian, total kasus yang tercatat selama periode tersebut mencapai 553 kasus.
Dinkes Fakfak mengingatkan masyarakat bahwa paparan asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama ketika kualitas udara menurun. Sejumlah keluhan yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala serta pusing.
Kelompok yang dinilai rentan meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, petugas lapangan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap cukup tebal.
Dinkes Fakfak juga menyiapkan jalur pelayanan melalui Health Emergency Operations Center (HEOC). Laporan masyarakat mengenai gejala ISPA maupun dampak asap karhutla akan ditindaklanjuti melalui koordinasi HEOC, triase klaster kesehatan, penanganan awal oleh EMT dan puskesmas hingga rujukan ke RSUD Fakfak bagi pasien dengan kondisi berat.
Dinkes mengimbau masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang muncul selama kondisi asap karhutla. Pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan diperlukan untuk mencegah kondisi menjadi lebih berat. (*)


Social Footer